FILOSOFI HAJI 3

WUKUF

Makna wukuf adalah berhenti, diam tanpa bergerak. Makna istilahnya ialah berkumpulnya semua jamaah haji di padang Arafah pada tanggal  9 Dzulhijjah, hari itu adalah puncaknya ibadah haji dan wukuf adalah sebesar-besarnya rukun haji. Seperti dinyatakan oleh Rasulullah :

Alhajju ‘Arafah ”. “Haji adalah  (wukuf) di Arafah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jika dikaitkan dengan thawaf, maka setelah kehidupan diwarnai dengan gerakan, maka pada suatu saat gerakan itu akan berhenti. Manusia suatu saat jantungnya akan berhenti berdetak, matanya akan berhenti berkedip,kaki dan tangannya akan berhenti melangkah dan berkeliat. Ketika  semua yang bergerak itu berhenti, maka terjadilah kematian, dan manusia sebagai mikro kosmos pada saatnya nanti akan dikumpulkan di padang Mahsyar, maka Padang  Arafah  menjadi lambang dari Padang Mahsyar itu.

Untuk mengetahui gambaran Padang  Mahsyar itu sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits, Ada 7 (tujuh) golongan orang dalam pengayoman Allah swt pada hari dimana tidak ada lagi pengayoman selain pengayoman-pengayoman-Nya : Imam  atau  pemimpin yang  adil. Pemuda yang tekun ibadahnya. Laki-laki  yang hatinya terpaut di masjid. Laki-laki yang mencintai karena Allah,dan berpisah  karena Allah pula. Laki-laki yang di rayu wanita bangsawan lagi cantik dia menolak sambil berkata aku takut akan siksa Allah. Laki-laki yang bersodaqoh dengan suatu  pemberian dia merahasiakannya sehingga tangan kiri tidak tahu apa yang diberikan oleh tangan  kanannya. Laki-laki yang berzikir mengingat Allah dalam kesunyian seraya bercucuran air matanya.(HR. Abu Hurairah Muttafaq ‘Alaih).

Padang Arafah adalah lokasi tempat berkumpulnya jamaah haji. Arafah adalah lambang dari maqam  ma’rifah billah yang memberikan  rasa dan citra bahagia bagi ahli ma’rifah yang tidak dapat dirasakan oleh sebagian besar para jamaah yang wukuf. Di Arafah lah tempat berkumpulnya jamaah haji yang datang dari berbagai penjuru dunia, yang berbeda-beda bahasa dan warna kulitnya. Tetapi  mereka mempunyai satu tujuan yang dilandasi persamaan ,tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, antara besar dan kecil, antara pejabat dan rakyat biasa, disitulah tampak nyata persamaan yang hakiki.  Arafah menjadi sepenting-penting syiar haji  diambil dari kata ta’aruf yang artinya saling mengenal, dan saling mengenal itu adalah saling menolong, saling membantu diantara mereka. Mu’tamar  akbar ini masih akan berlanjut jika para jamaah haji berkumpul di Mina, alangkah hebatnya peristiwa ini, karena setiap tahun akan berulang sampai hari kiamat tiba.

 

ARAFAH TEMPAT PEMBEBASAN

Wukuf di Padang Arafah bagi jamaah haji yang hanya diberi kesempatan waktu sejak tergelincir matahari tanggal  9 Dzulhijjah itu mempunyai arti yang sangat penting bagi jamaah haji. Pada hari Arafah jamaah haji dari berbagai penjuru dunia berkumpul di satu tempat untuk melaksanakan rukun haji yang menentukan  sah atau tidaknya ibadah haji, sebagaimana di sabdakan oleh Nabi Muhammad saw.

Alhajju ‘Arafah ” . “Haji adalah (wukuf) di Arafah”.( HR. Bukhari da Muslim).

Jamaah haji berpakaian ihram dengan melepaskan kebahagiaan dan kebanggaan keduniaan, menunjukkan  sikap rendah diri kepada Allah swt, pengakuan dosa di nyatakan kepada Allah swt, permohonan ampun dan segala dosa dinyatakan kepada Allah swt. Setiap jamaah haji menyadari benar betapa dekatnya Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan beribadah kepada Allah dengan penuh ke ikhlasan yang meliputi suasana wukuf di Arafah itu.

Setelah wukuf dilakukan, jamaah haji merasakan bebas dari beban dosa kepada Allah, yakin do’anya dikabulkan, dorongan untuk melakukan kebaikan lebih banyak terasa sangat kuat, dan rahmat Allah pun sangat menentramkan jiwanya.

Dalam sebuah hadits disebutkan : Nabi saw wukuf di Arafah, disaat matahari hampir terbenam , beliau berkata: “Wahai Bilal suruhlah umat manusia mendengarkan saya. “Maka Bilal pun berdiri seraya berkata, “Dengarkanlah Rasulullah saw, maka mereka mendengarkan, lalu Nabi bersabda: “Wahai umat manusia, baru saja Jibril a.s, datang kepadaku,maka dia membacakan  salam dari Tuhanku, dan dia mengatakan; “Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa  orang-orang yang berwukuf di Arafah , dan orang-orang yang bermalam di Masy’aril Haram (Muzdalifah) , dan menjamin membebaskan mereka dari tuntunan balasan dan dosa-dosa mereka.  Maka Umar ibn Khattab pun berdiri dan bertanya, Ya Rasulullah, apakah ini khusus untuk kita saja? Rasulullah menjawab, Ini untukmu dan untuk orang-orang yang datang sesudah mu hingga hari kiamat, kelak Umar r.a,pun lalu berkata,  Kebaikan Allah sungguh banyak dan Dia maha pemurah”.

Dalam hadits lain,Nabi saw mengatakan : “Aku berlindung  kepada Allah swt dari (godaan) syetan yang terkutuk. Tiada hari yang lebih baik banyak Allah membebaskan seorang hamba dari neraka selain dari Hari Arafah”.(HR. Muslim)

 

MABIT DI MUZDALIFAH

Setelah tenggelam matahari pada hari Arafah, maka jamaah haji meninggalkan Arafah menuju keMuzdalifah untuk berhenti. Minimal  setelah lewat tengah malam baru dibolehkan bergerak menuju Mina. Selama mabit di Muzdalifah jamaah disunnahkan memungut kerikil (batu kecil) sedikitnya 7 butir untuk melontar Jumrah Aqabah esok paginya sesampainya di Mina. Mabit dan istirahat, di Muzdalifah itu bagai pasukan tentara yang sedang menyiapkan tenaga dan memungut kerikil itu bagaikan menyiapkan senjata dalam rangka berperang melawan musuh manusia, yaitu syetan yang terkutuk, karena itu melontar jumrah adalah  lambang  memerangi  syetan.

Yang demikian itu adalah hakikat perang, suatu tugas yang berat, karena musuh itu yakni syetan tak pernah mati dan tak akan habis sampai hari kiamat. Senjata apapun tak akan berguna untuk menghancurkannya kecuali do’a. Jadi melempar Jumrah itu  adalah lambang perang dengan syetan dan memerangi syetan bukan hanya pada melaksanakan ibadah haji saja tetapi sepanjang hidupnya, karena syetan itu tidak akan mati dan ada dimana-mana, di rumah , dipasar, di kantor, di ladang di jalan-jalan dan dimana saja. Tidak ada  tempat  yang  kosong  dari  syetan.

Melawan pasukan syetan  haruslah dengan kekuatan hati yang penuh dengan iman dan takakkal kepada Allah serta do’a. Rasulullah mengajarkan ketika melontar jumrah satu demi satu dengan takbir (Allahu Akbar) , dan disini pula kita tahu makna dan arti dari do’a  ta’awudz : “ Auzu billahi minasyaithoni rojim”  “ Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk”

Dan  bacaan Bismillah pada saat akan memulai pekerjaan yang baik agar syetan tidak mengganggu apa yang kita lakukan.

 

MABIT  DI MINA

Mina adalah lokasi ditanah haram di Makkah, secara harfiah Mina berarti tempat tumpah darah binatang yang di sembelih. Ini sesuai dengan kenyataan  yang berlaku bahwa di daerah ini setiap tahun disembelih sekitar satu juta binatang yang  terdiri dari unta, sapi, dan  kambing.

Jamaah haji melaksanakan mabit di Mina sebagai kelanjutan dari suatu pelaksanaan ibadah sebelumnya, dan dilaksanakan pada tanggal 10,11,dan 12 Dzulhijjah (bagi jamaah yang Nafar Awal), dan tanggal 10,11,12, dan 13 bagi yang  Nafar  Tsani.

Selama mabit di Mina, jamaah  haji harus mampu menangkap makna hikmah, dengan banyak  dzikir, berdo’a dan  menghayati perjalanan  Rasulullah saw dan para Nabi sebelumnya. Di Mina terdapat masjid Khaif yaitu masjid searah dan dekat Jumratul Ula. Dimasjid ini dahulu sejumlah 75 Nabi melaksanakan shalat, demikian pula Nabi Muhammad saw. Bahkan menurut suatu riwayat Nabi Adam a.s, dikubur di Mina.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan dengan firman-Nya: “Dan berzikirlah kamu kepada Allah pada hari-hari yang terbilang.”(Al Baqarah :203).

Rasulullah bersabda :”Hari-hari (tinggal) di Mina adalah tiga hari.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Maka ada dua pekerjaan yang perlu dilakukan oleh jamaah haji selama di Mina, Yaitu:

Pertama, Melontar  Jamarat, yang pada hari Nahar melontar jumratul Aqabah dan pada hari Ayyamut      tasyriq   melontar  Jumratul Ula, Jumratul Wustho, dan Jumratul Aqabah.

Kedua, Mabit ,Yakni tinggal dan menginap di Mina selama malam hari Ayyamut tasyriq

Aisyah  r. a, istri beliau mengemukakan :” Rasulullah saw melakukan  ifadhah (thawaf di Mekkah), kemudian kembali ke Mina, lalu tinggal di Mina selama tiga hari-hari tasyriq.”( Muttafaq ‘Alaih)

Diantara keistimewaan Mina antara lain :

Kawasan ini pada hari biasanya tanpak sempit dan selalu menjadi luas secara otomatis sehingga dapat  menampung seluruh jamaah, hal ini sesuai dengan ucapan Rasulullah,” Sesungguhnya Mina ini seperti rahim, ketika terjadi kehamilan”, daerah ini di luaskan oleh Allah swt. Maka semestinya kita tidak perlu khawatir tidak dapat tempat di Mina.

Batu kerikil yang di lontarkan ke jumrah oleh jamaah haji yang hajinya di terima oleh Allah diangkat oleh Malaikat ke langit. Dan batu yang di lontar oleh  mereka yang hajinya tidak di terima, dibiarkan menetap  di jumrah yang pada  akhirnya di bersihkan. Hal ini sesuai dengan ucapan  Abdullah ibnu Umar salah seorang sahabat Nabi yang alim, “Demi Allah, sesungguhnya Allah mengangkat kelangit batu yang di lontarkan ke jumrah oleh mereka yang hajinya di terima oleh Allah”. Dalam kitab Syifa al-Gharom diterangkan bahwa Syeikh Abu Nu’man al-Tabrizi (Mufti Masjidil Haram) pada zamannya pernah melihat sendiri menyaksikan  betapa batu-batu itu beterbangan naik keatas kea rah langit

MELONTAR JUMRAH.

Setelah jamaah haji meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah  dan bermalam untuk beberapa saat,kemudian menuju Mina, tempat Nabi Ibrahim akan melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih putranya Ismail as. Sebelum sampai tempat yang dituju, Nabi Ibrahim as, digoda oleh iblis untuk membatalkan niatnya melaksanakan perintah Allah itu. Di tiga tempat Nabi Ibrahim di goda, dan disetiap tempat iblis menggoda itu Nabi Ibrahim melontarkan batu tertuju pada iblis.

Demikian iblis akan selalu menggoda manusia untuk tidak mentaati perintah Allah. Betapapun kecilnya kadar kebajikan yang akan dilakukan oleh manusia, godaan iblis pasti senantiasa menghadang.

Al-Qur’an menceritakan ikrar iblis, yang dinilai sesat dan dilaknat oleh Allah setelah menolak perintah untuk mersujud kepada Nabi Adam as. Dan minta diberikan kesempatan hidup hingga hari manusia dibangkitkan (hari kiamat) lalu dikabulkan oleh Allah, firman-Nya :

“Iblis mengatakan “ Tuhanku, karena Engkau telah menilaiku sesat, niscaya akan ku hiasi kehidupan manusia di bumi, dan akan ku sesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu diantara mereka yang ikhlas, hidup mentaati petunjuk-petunjuk-Mu.”(QS. Al-Hijr : 40)

Melontar jamarat mengingatkan jamaah haji bahwa iblis senantiasa berusaha menghalangi orang mukmin yang akan melakukan kebaikan.

Dalam Hadits Nabi saw di ingatkan : “Sesungguhnya syetan merayap pada manusia sebagaimana jalannya darah.”

Syetan tidak akan pernah berhenti menggoda dan tidak mudah dirasakan godaannya. Orang-orang yang hidup ikhlas sajalah yang mampu menanggulangi godaan syetan itu. Nabi Ibrahim as. Selamat dari godaan iblis , karena ikhlasnya menjalani hidup mentaati perintah-perintah Allah, Meskipun menghadapi ujian yang sangat berat, diperintahkan untuk menyembelih putranya Ismail as.

Keberhasilan Nabi Ibrahim menangkis godaan iblis, diikuti segera dengan melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih puteranya. Disaat pisau Ibrahim as, akan digoreskan pada leher Ismail, terdengarlah seruan untuk menghentikan  penyembelihan itu. Perintah penyembelihan anak itu hanyalah ujian belaka. Maka digantilah Ismail dengan binatang sembelihan yang besar. Binatang itulah yang akhirnya di sembelih. Dalam hal ini Al-Qu’an menceritakan.

“Setelah keduanya berserah diri pada Allah dan Ismail dibaringkan tertelungkup pada keningnya, kamipun berseru, “Wahai Ibrahim sungguh engkau telah hendak melaksanakan perintah yang kau jumpai dalam  impian, demikianlah kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kebajikan. Ini adalah ujian yang nyata, Kami berikan tebusan kepadanya berupa binatang sembelihan yang besar”      (QS :103-107)

Melontar jumrah mempunyai hikmah yang sangat besar sekali. Dimaksudkan sebagai lambang lemparan terhadap iblis yang dilaknat Allah. Jumrah itupun ada tiga : Jumratul Aqobah, Jumratul wustho, Jumratul shughra. Hikmah melempar Jumrah adalah mengikuti jejak Nabi Ibrahim as. Allah mewahyukan kepadanya di tanah yang suci ini untuk menyembelih putranya. Dan beliaupun mematuhi perintah-Nya. Beliau berangkat untuk melaksanakan perintah Allah. Tiba-tiba syetan datang dan menggodanya  agar tidak melaksanakan penyembelihan itu. Maka Nabi Ibrahim mengambil batu-batu kecil lalu melempar syetan-syetan itu dengan batu tersebut. Lemparan ini di laksanakan ditempat pelemparan jumrah yang pertama. Ketika iblis melihat hal tersebut, maka segera menghubungi Siti Hajar dan mengejek perbuatan Nabi Ibrahim as. Menyembelih putranya yang merupakan buah hatinya. Lalu Siti Hajar pun mengambil batu-batu dan melemparkannya ke iblis. Lemparan itu pun dilakukan di tempat pelemparan jumrah yang kedua. Maka tidak ada jalan lain bagi iblis kecuali mendekati Nabi Ismail as. Dan mengejek perbuatan ayahnya sambil berkata,bahwa perbuatan itu belum pernah terjadi dalam sejarah manusia didunia sejak ia diciptakan oleh Allah. Maka Nabi Ismail mengambil segenggam kerikil dan melemparkannya kepada iblis. Lemparan itu dilakukan di tempat pelemparan jumrah yang ketiga.Karena iblis menggoda Ibrahim, Siti Hajar,dan Ismail yang masing-masing melemparkan batu kepada iblis, maka diikuti jejak mereka seolah-olah kita juga ikut melempari iblis yang dikutuk oleh Allah itu. Dan juga iblis dilaknat oleh Allah itu  musuh umat Islam dan segenap manusia, dan ingin menjerumuskan mereka kedalam perbuatan maksiat dan mengerjakan sesuatu yang merusak ibadah haji mereka, serta menggodanya,sebagaimana menggoda Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan  Nabi Ismail as.Dan juga menghinakan iblis yang dilaknat Allah sehingga putuslah harapan yang  ingin  menjadikan  jamrah haji  tunduk dan  taat  kepadanya.

DAM

Dam menurut bahasa artinya darah. Dam adalah suatu amalan ibadah yang wajib dilakukan oleh orang yang melakukan ibadah Haji dan Umrah sebagai pengganti suatu tata-cara ibadah lain yang tertinggal atau laksana suatu hukuman atas suatu pelanggaran dan dapat juga terjadi dam itu sebagai akibat pilihan praktik melakukan ibadah haji, yaitu bagi yang melaksanakan haji Tamattu atau Qiran.

Hikmah yang harus kita fahami adalah menyadari kembali bahwa ibadah haji adalah laksana jihad, menegakkan agama Allah,dimana jihad itu sudah barang tentu berakibat mengalirnya darah sebagai syahid. Menegagkan agama dengan jihad berarti membela iman kepada Allah swt, yang pada akhirnya menempati posisi keyakinan, “hidup dan mati adalah karena Allah, termasuk mati dengan mengeluarkan darah.”

PENYEMBELIHAN QURBAN

Hikmah penyembelihan Qurban adalah mengikuti jejak Nabi Ibrahim a.s. Dimana Allah memerintahkan kepadanya lewat mimpinya agar melaksanakan qurban dengan mentaatinya. Kemudian Allah menggantikannya dengan binatang sembelihan yang besar.

Dalam hal ini ada dua hikmah:

·         Memperlihatkan ketaatan  yang sempurna kepada Allah Yang Maha Agung, walaupun diperintah untuk menyembelih putra kesayangannya.

·         Menunaikan kewajiban bersyukur kepada Allah, berupa nikmat tebusan. Dimana Allah sudah menjadikan orang yang bersedekah dari nikmat Allah bukan termasuk orang-orang fakir yang berhak menerima sodaqoh. Dan tidak diragukan lagi ini merupakan nikmat yang besar. Jamaah haji ynag melakukannya berada di tingkat tertinggi. Sebab tidak ada kedudukan paling tinggi dalam ketaatan  manusia kepada Tuhannya, melebihi ketaatan kepada-Nya dalam setiap perintah yang diperintahkan, walaupun sampai disuruh untuk menyembelih putra yang menjadi buah hatinya. Seyogyanya menyembelih binatang ternak ( qurban) atas orang yang menjalankan ibadah haji dalam  rangka  mensyukuri  nikmat Allah swt.

NAFAR

Nafar dalam bahasa dapat diartikan, rombongan atau gelombang keberangkatan  jamaah haji meninggalkan Mina. Nafar terbagi dua,yaitu : Nafar Awal dan Nafar Tsani. Nafar Awal dimana jamaah haji menyelesaikan semua kewajiban hajinya di Mina sampai hari kedua Tasyrik (12 Dzulhijjah). Sedangkan Nafar Tsani diharuskan bermalam lagi di Mina dan melontar jumrah esok harinya (13 Dzulhijjah) baru kemudian meninggalkan Mina.

Hikmah adanya penetapan hukum Nafar seperti itu berdasarkan Firman Allah swt dan amaliyah Rasulullah saw memberikan satu kontribusi alternatif untuk di pilih oleh seorang jamaah berdasarkan kepentingan masing-masing.

Dalam pengaturan tersebut tercermin toleransi dan kehanifan ajaran Islam, walaupun dalam batas-batas tertentu, karena kecendrungan untuk melakukan Nafar Awal tidak dapat dipilih begitu saja tanpa adanya pertimbangan kepentingan pribadi atau maslahah umum. Seperti karena kepentingan kepulangan ke kampung halaman. Oleh karena itu Umar Bin Al Khattab,melarang penduduk kota Makkah untuk Nafar Awal karena mereka tidak di desak oleh kepentingan kepulangan ke daerah asal. Seperti yang dijelaskan dalam kitab Mausu’ah Fikhi Umar bin Khattab.

Sedangkan para Imam yang lain ada yang membolehkan secara umum walaupun mereka tidak berdosa akan tetapi kehilangan fadhilah sebagaimana firman Allah swt :

Dan barang siapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina )sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu) maka tidak ada dosa pula baginya.”(QS. Al-Baqarah : 203)

 

THAWAF WADA’

Thawaf wada’ dikerjakan oleh jamaah haji saat akan meninggalkan Makkah, yakni akan meninggalkan Masjidil Haram baik untuk kembali keTanah Air atau akan ziarah ke Madinah.

Kata wada’ artinya perpisahan . Jadi Thawaf wada’ adalah Thawaf perpisahan dengan Ka’bah Al Musyarofah, Masjidil Haram dan sekaligus dengan Tanah Haram Makkah. Bila dihayati, thawaf wada’ ini mengandung arti maknawi yang perlu di resapi ketika melakukannya, sehingga ibadah ini selain syariat terselip pula hakikat yang bisa di tangkap. Dalam thawaf wada’ atau thawaf perpisahan  ini ada beberapa hal yang bisa di hayati, antara lain sebagai berikut :

1.Bersyukur kepada Allah atas rahmat-Nya sehingga dengan itu semua pekerjaan haji dan umrah dapat diselesaikan dengan baik dan semaksimal mungkin. Berbagai nikmat dan rahmat telah diperoleh selama dalam perjalanan. Dari sekian banyak umat yang ingin melaksanakan haji atau umrah kita diberi kesempatan oleh Allah untuk menunaikannya. Sehingga dengan telah melaksanakan rukun Islam itu. Berbagai janji kebaikan kepada Allah kelak akan diterima setelah kembali dari melaksanakan ibadah haji, baik di dunia maupun di akhirat nanti, insya Allah.

2.Mengharap kepada Allah agar semua amal ibadah yang dikerjakan, tenaga dan waktu yang  dihabiskan,uang dan dana yang dikeluarkan untuk melaksanakan ibadah haji atau umrah benar-benar mabrur,memperoleh balasan yang dijanjikan oleh Allah swt, yaitu surga. Karena dalam pelaksanaan ibadah ini tidak ada yang di inginkan kecuali ridha, pengampunan dan balasan pahala dari  Allah swt. Rasulullah saw bersabda : “Barang siapa yang melaksanakan haji karena Allah dengan tidak melakukan rafats (kata-kata kotor) dan tidak berbuat fusuk (durhaka), maka ia kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan  ibunya (tanpa dosa).” ( HR. Bukhori dan Muslim)

3. Perjalanan dari Indonesia ke Tanah Suci Mekkah dan kembali ke Tanah Air, tentulah perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, serta perjalanan yang  beresiko tinggi dan menghadapi tantangan yang berat. Dalam thawaf  wada’ ini, do’a kita hadapkan kepada Allah swt, agar selama dalam perjalanan senantiasa dilindungi-Nya dengan keselamatan dan kesehatan. Perjalanan yang demikian panjang,bahkan semua perjalanan hidup, perlu mendapat perlindungan Allah. Dialah yang Mahabijaksana dan Maha Kuasa mengatur segala perjalanan dan melindungi semuanya.

4.Mengulangi pekerjaan ibadah yang boleh di ulang-ulang akan menimbulkan kenikmatan yang tersendiri, selain memperoleh balasan pahala. Mengerjakan haji merupakan lewajiban sekali seumur hidup, tetapi tidak salah pula bila seseorang ingin mengerjakannya lebih dari satu kali selama hidup.

Pertemuan atau berada di Ka’bah memiliki makna tersendiri bagi setiap orang yang mengerjakan haji dan umrah. Baitullah bukan hanya sekedar “rumah” yang di tatap hanya sepintas dan kemudian di tinggalkan. Baitullah ternyata menjadi sumber kerinduan bagi seluruh jamaah haji. Setiap jamaah yang meninggalkan Ka’bah rindu untuk kembali ke sana,bahkan tidak sedikit orang yang meneteskan air mata karenanya.Berbeda dengan ketika melihat dan menyaksikan suatu tempat yang lain yang tanpa kesan dan tidak tertarik lagi untuk kedua kali dan seterusnya. Berbeda dengan melihat Ka’bah, setelah melihatnya dan berada disana, muncul keimanan dalam hati. Oleh sebab itu, pada thawaf  ini kita berdoa agar dapat berkunjung  lagi  ke Baitullah.

5.Salah satu yang didambakan pasangan suami istri adalah keturunan dan generasi yang diridhoi Allah swt. Salah satu ajaran yang terkait dengan peristiwa haji pada zaman Nabi Ibrahim as. Adalah pembentukan keluarga yang  islami, sebagaimana terdapat di dalam Al-Qur’an:

“Ya Tuhan kami,jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau,dan (jadikanlah)di antara anak cucu kami umat yang tunduk dan patuh kepada Engkau dan tunjukkan kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”(QS.Al-Baqarah :128)

 

Fri, 23 Aug 2013 @13:02

Copyright © 2014 PT KAFILAH SUCI WISATA · All Rights Reserved