FILOSOFI HAJI 2

HAJAR ASWAD

Hajar Aswad adalah batu berwarna hitam yang berada di sudut tenggara Ka’bah. Didalam sebuah hadits di jelaskan  “Hajar Aswad diturunkan dari surga dengan warna yang jauh lebih putih dari susu, kemudian dia menjadi hitam Karena dosa-dosa anak cucu Adam.”(HR. Tirmidzi)

Dalam sebuah riwayat menunjukan bahwa bagian yang tertanam di Ka’bah adalah putih,seperti yang diriwayatkan oleh Mujahid dalam buku akhbar Makkah, ia berkata, “Saya melihat kerukun (Hajar Aswad ) tatkala Abdullah bin Zubair membongkar Ka’bah. Ternyata apa yang ada didalam Ka’bah itu adalah putih.

Dengan demikian  bahwa bagian yang hitam itu disebabkan oleh dosa-dosa dan ini merupakan bagian yang  tampak dari Hajar Aswad. Dan Ibnu Zahirah berkata,”Ketahuilah jika dosa-dosa itu memberi bekas di Hajar Aswad, maka bekasnya didalam hati tentu lebih  besar dan lebih berat. Karena itu hendaknya setiap orang menjauhi dosa-dosa itu.”  Hajar Aswad sebagai tanda untuk memulai thawaf dan mengakhirinya.

MENCIUM HAJAR ASWAD

Mencium hajar Aswad sunnat bagi orang laki-laki.Mencium Hajar Aswad itu mengikuti amaliah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim as, dan juga dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. Nilai yang menonjol dalam mencium Hajar Aswad adalah  nilai kepatuhan mengikuti sunnah Rasul. Dalam hubungan ini riwayat tentang sahabat Umar ra, ketika mencium Hajar Aswad mengatakan,:

Umar ra.berkata :”Sungguh aku mengetahui engkau hanyalah batu,sekiranya aku tidak melihat kekasihku Rasulullah saw. Telah menciummu dan mengusapmu, niscaya aku tidak akan mengusapmu dan menciummu.”(HR.Ahamad)

Rasulullah saw telah memberikan tuntunan dalam bersikap terhadap Hajar Aswad sangat bijaksana. Jika mungkin, orang thawaf  supaya mencium Hajar Aswad . Jika tidak mungkin cukup menyentuh dengan tangan. Kemudian mencium tangannya yang telah menyentuh Hajar Aswad itu. JIka tidak mungkin, cukup berisyarat dari jauh, dengan tangan atau tongkat yang dibawa kemudian menciumnya.

Shalat dua rakaat setelah thawaf dibelakang Maqam Ibrahim (tempat berdiri Nabi Ibrahim a.s. ketika membangun Ka’bah), yang dilakukan sebelum mencium Hajar Aswad  jika mungkin, juga mengingatkan adanya hubungan agama yang disampaikan Nabi  Muhammad saw dengan agama yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim a.s. perbuatan yang dilakukan dalam  thawaf  makin  mengukuhkan keimanan dan ketauhidan kaum  mukminin  serta memantapkan  ke Islamannya.

Dalam  hadits dijelaskan  juga tentang kemuliaan Hajar Aswad: “Hajar Aswad  itu  tangan  kanan Allah Azza Wajalla dimuka bumi.Allah berjabat tangan dengan makhluk-Nya,seperti seseorang berjabat tangan dengan  saudaranya.”          (HR. Al Khatib dan Ibn ‘Asyakir).

 

MULTAZAM

Multazam menurut bahasa, artinya pasti. Multazam berada antara rukun Hajar Aswad dan pintu Ka’bah yang mulia. Tempat ini lah yang dinyatakan oleh Nabi Muhammad saw sebagai tempat yang paling mustajab untuk berdo’a, dengan sabdanya : Rasulullah saw bersabda,” Multazam adalah tempat berdo’a yang mustajab (terkabul),tidak seorang pun hamba Allah yang berdo’a ditempat  ini tanpa terkabul permintaannya.”

Seorang mufassir Mujahid berkata, “Apa yang ada diantara pintu Ka’bah dan Rukun Hajar Aswad itu disebut dengan Multazam.jarang sekali seseorang yang memohon sesuatu kepada Allah dan berlindung kepada-Nya dari sesuatu, kecuali Allah akan mengabulkannya”.

RUKUN YAMANI (Sudut Arah Yaman )

Rukun Yamani adalah rukun Ka’bah yang menghadap kearah Yaman yang sejajar dengan Hajar Aswad. Rukun ini berada diatas pondasi-pondasi Baitullah yang di tinggikan Nabi Ibrahim dan Ismail. Oleh sebab itulah,Abdullah bin abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah tidak pernah menyentuh  kecuali  Hajar Aswad dan Rukun Yamani. Sudut ini sangat penting  artinya bagi ke istimewaan Ka’bah, karena setiap orang yang thawaf disunnatkan  menyalami  atau  mengusap dengan tangan kanan jika tidak berdesakan atau disunnatkan melambaikan tangan kanan kea rah sudut ini seraya mengucapkan :Bismillah Allahu Akbar.

Tempat ini adalah salah satu tempat dikabulkannya do’a. Mujahid berkata:”Barang siapa meletakkan tangannya dirukun Yamani kemudian dia berdoa  maka Allah akan mengabulkan do’anya” Dalam sunan Abu Daud disebutkan bahwa Rasulullah selalu berdo’a saat berada di antara Rukun ini (Yamani dan Hajar Aswad) dengan membaca :

Rabbanaa  aatinaa fii  dunya hasanah  wa fil akhiroti hasanah wa qinaa ‘azaabannaar.”           

  ..”Ya  Tuhan kami, Berilah kebaikan didunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari api neraka.”(QS. Al-Baqarah : 201)

 

MAQAM IBRAHIM

Maqam  berarti  tempat  pijakan orang berdiri. Adapun Maqam Ibrahim adalah batu yang digunakan oleh  Nabi Ibrahim a.s. untuk berpijak pada waktu beliau membangun  Ka’bah.  Salah satu keistimewaan batu maqam Ibrahim (dan Hajar Aswad) adalah pemeliharaan Allah agar tidak disembah oleh orang-orang musyrik, sehingga ketika Islam datang salah satu ajarannya  adalah menganjurkan umatnya mencium atau menghormati dua batu  itu sebagai bukti  kebesaran Allah yang ada di bumi ini,dengan  mengambil tempat shalat didekatnya yaitu  antara Ka’bah dan  Maqam  Ibrahim. Shalat disini utamanya dilakukan setelah  melakukan thawaf  sebagai shalat sunnah thawaf dan setelah  itu bacalah do’a dengan khusyu’ agar  Allah  mengabulkannya.

Beberapa keutamaan Maqam Ibrahim

  Dijadikan tempat shalat

Yaqut dari surga Rasulullah saw bersabda:

Rukun Hajar Aswad dan Maqam adalah yaqut-yaqut surga andaikata Allah tidak menghilangkan cahayanya,pastilah ia akan memancarkan cahaya antara timur dan barat.”

·                Tempat dikabulkannya do’a

 

HIJIR ISMAIL

Hijir Ismail adalah bangunan terbuka yang berbentuk setengah lingkaran. Disebut Hijir Ismail, Nabi Ibrahim membuat satu tempat berteduh yang terbuat dari pohon arok disamping Ka’bah yang ditempati oleh Ismail dan ibunya Siti Hajar.

Kalau ingin shalat di Ka’bah cukup shalatlah didalam Hijir Ismail, seperti yang diriwayatkan  Aisyah r.a.”Aku pernah minta kepada Rasulullah agar diberi izin masuk Ka’bah untuk shalat di dalamnya, lalu beliau  membawa aku ke Hijir  Ismail dan bersabda,”Shalatlah kamu disini, kalau ingin shalat di dalam  Ka’bah, karena itu termasuk sebagian dari  Ka’bah.”(HR.Tirmidzi)

Shalat di Hijir Ismail adalah sunnah yang berdiri sendiri dalam arti tidak ada kaitannya dengan thawaf atau umrah,haji dan ibadah lainnya.

 

ZAMZAM

Dalam sejarah dikisahkan, Nabi Ibrahim a.s, Nabi Ismail a.s. dan Siti Hajar  ibunya datang ke Mekkah. NAbi Ibrahim hanya meninggalkan kurma dan air untuk keduanya. Kemudia dia kembali ke Palestina. Tatkala bekal  itu habis, keduanya merasakan  haus yang sangat. Maka berangkatlah Siti Hajar  ke Shafa  dan berdiri disana dengan harapan melihat seseorang di tempat itu.

Demikianlah dia berlari kecil antara Shafa dan Marwa. Pada saat lari yang ketujuh dia mendengar suara orang yang memanggil-manggil, padahal di tempat itu tidak ada orang  kecuali ia dan Ismail yang masih bayi, lantas ia berseru,”Aku dengar suaramu, tolonglah aku jika engkau orang baik”. Muncullah Malaikat Jibril kemudian menghentakkan tumitnya di tanah, lalu memancarkan air di tempat itu dan dengan tergesa-gesa Siti Hajar membendungi air dengan tanah  dan pasir agar tidak mengalir kemana-mana. Maka disebutlah air itu dengan nama zamzam berarti air gemercik tapi terkumpul.

Air zamzam segaja diberikan oleh Allah swt .mula-mula kepada Ismail  dan ibunya Siti Hajar,kemudian oleh mereka berdua diberikan kepada siapa saja yang memerlukan. Ini  terbukti setelah beberapa hari Siti Hajr dan anaknya  tunggal didekat air itu, datanglah kepadanya dua orang dari suku Jurhum yang mewakili bangsanya untuk berkenalan sekaligus meminta izin  untuk memanfaatkan air, dengan senang hati menerima mereka  dan akhirnya menjadi sekumpulan masyarakat  baru di sekitar mata air zamzam dan akhirnya menjadi  sebuah kota yang amat ramai.

Diantara faedah air zamzam adalah:

 

·     Syaba’ah ,, artinya kenyang, karena setelah minum air zamzam menjadi kenyang.
·     Murwiyah ,artinya segar, karena air zamzam dapat menghilangkan rasa dahaga dan menjadi segar.
· Nafi’ah, artinya bermanfaat,karena sangat banyak manfaatnya,diantaranya menguatkan hati dan menenagkan rasa takut.
·    Afi’ah, artinya sehat,karena air  zamzam jika diminum dapat menangkal atau menolak menyakit.
·  Barrah, artinya memiliki kebaikan, karena air zamzam sangat baik bagi orang yangmeminumnya untuk memperoleh  keberkahan.
·    Mahmudah , artinya bagus, karena indahnya air zamzam  maka  Allah melarang satu kaum dari bangsa Arab tinggal disekitarnya karena berbuat maksiat.
·     Kafiyah,   artinya mencukupi, karena orang minum zamzam merasa cukup dan puas.
·   Mu’dzibah, artinya mencegah rasa dahaga, karena air zamzam mengandung rasa antara manis dan tawar.
·   Syifa saqamin , artinya  menyembuhkan penyakit, karena air zamzam dapat menjadi obat dari penyakit yang diderita seseorang.
·   Tho’amun thu’min , artinya mengenyangkan, karena meminum air zamzam dapat menghasilkan rasa kenyang.
·   Hazmatul Jibril , artinya injakan atau tekanan tumit malaikat Jibril. Disebut demikian karena air zamzam keluar dari tumit kaki Jibril.
·    Maghfurah, artinya ampunan, karena orang yang meminumnya diampuni dosanya.

 

Dalam hadits  dijelaskan bahwa Rasulullah saw bersabda :”Air zamzam bagi yang diniatkan  ketika meminumnya,  jika engkau minum dengan maksud agar sembuh  dari penyakitmu  maka Allah menyembuhkannya. Jika engkau minum dengan maksud agar engkau merasa kenyang, maka Allah mengenyangkan engkau. Jika engkau meminumnya agar  hilang rasa hausmu maka Allah akan  menghilangkan dahagamu itu. Ia adalah air tekanan  tumit  Jibril, minuman  dari Allah untuk Ismail. “(HR. Daruqutni, Ahmad, Ibnu Majah, dari Ibnu Abbas)

 

Minum  air zamzam  sehabis  thawaf  mengingatkan  kepada  nikmat  Allah  yang  diberikan  kepada hamba-Nya  yang mengalami kesulitan, sekaligus mensyukuri nikmat Allah yang amat besar dibumi Makkah  yang  sangat tandus, tanpa tumbuh-tumbuhan itu, serta menanamkan  keyakinan  bahwa Allah  adalah Tuhan  yang  Maha Pemurah, Maha Kaya dan  Maha Mendengar do’a orang  yang berdo’a kepada-Nya.  Mensyukuri  nikmat Allah akan menambah banyak lagi  nikmat yang di berikan oleh Allah.

Dalam al-qur’an di ingatkan:

 “Wa idz  taadzana rabbakum   la in syakartum  la adziidannakum  wa la in kafartum inna ‘adzaabii la syadiid.”

 “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berseru : Sungguh jika kamu  mensyukuri nikmat-Ku niscaya Aku akan menambahkannya, dan sungguh jika kamu mengingkari nikmat-Ku sungguh siksa-Ku amat berat.”(QS.Ibrahim :7)

SA’I

Kata sa’i artinya, usaha, yang bisa pula dikembangkan  artinya berusaha dalam hidup, baik pribadi, keluarga, maupun  masyarakat.

Pelaksanaan sa’i antara bukit Safa dan Marwah melestarikan pengalaman Siti Hajar (Ibu Ismail r.a) ketika mondar-mandir  antara dua bukit itu untuk mencari air minum bagi dirinya dan putranya, disaat beliau kehabisan air dan keringat pun  kering, di tempat yang sangat tandus, dan tiada seorang pun dapat di mintai pertolongan. Nabi Ibrahim a.s., suami Siti Hajar dan ayah Ismail tidak berada di tempat,  berada yang sangat jauh  di Syam. Kasih  sayang seorang ibu yang mendorong Siti Hajar  mondar-mandir hingga tujuh kali pulang balik antara bukit Safa dan Marwah itu. Jarak antara bukit Safa dan Marwah kurang lebih 400 meter. Sehingga Siti Hajar  menempuh jarak  hampir 3km. Dengan penuh tawakal kepada Allah, Siti Hajar mencari air yang diperlukan untuk menyambung  hidupnya itu. Akhirnya memperolah nikmat berupa mengalirnya mata air zamzam. Pada peristiwa ini digambarkan bagaimana kasih sayang seorang ibu kepada anaknya yang harus menjadi teladan bagi kaum muslimin. Rasa syukur atas kasih sayang ibu yang dengan segala pengorbanan berusaha untuk membahagiakan anak  harus senantiasa hidup dalam hati setiap muslim.

Dan diantara hikmah yang perlu dicerna dalam pelaksanaan sa’i adalah memberikan makna sikap optimis dan usaha yang keras serta penuh kesabaran dan tawakkal kepada Allah swt. Kesungguhan yang dilakukan oleh Siti Hajar dalam mencari air sebagai nyawa kehidupan membuat ia sampai tujuh kali mondar mandir antara bukit safa dan  marwah. Hal ini memberikan arti bahwa hari-hari kita yang berjumlah tujuh hari setiap minggunya harus diisi dengan penuh usaha dan kerja keras.pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh sangat disenangi Allah, sebagaimana disabdakan Rasulullah saw.

InnaAllaha yuhibbu ‘abda idza ‘amila  atqona ”…

“Allah sangat senang kepada seorang hamba yang bila bekerja ia melakukannya dengan sungguh-sungguh,”

Dengan menghayati dan meresapi syari’at sa’i akan muncullah di dalam diri kita sikap-sikap positif menghadapi berbagai tantangan yang terjadi, antara lain : kesungguhan, keikhlasan, sabar, tawakkal, disiplin, kebersamaan. Pekerjaan dan usaha, apalagi yang besar, haruslah dilakukan dengan penuh keuletan, tanpa mudah menyerah.

RAMAL (berjalan cepat )

Ramal adalah jalan cepat. Allah mensyari’atkannya berjalan cepat secara masal, seperti luapan ombak ditengah lautan luas seperti gerombolan tentara yang banyak berkorban diantara dua gunung, maka hal semacam  ini menunjukkan kekuatan dan kebesaran  kaum muslimin serta keluhuran agama mereka,sekaligus menakut nakuti orang-orang musyrik dan kafir pada waktu itu. Dan barangkali pada zaman sekarang ,kalau berita itu disampaikan kepada umat-umat dan bangsa-bangsa lain akan meresaplah cahaya iman dan keagungan agama Islam yang lurus kedalam hati  orang-orang kafir,sehingga mereka akan memeluk agama Islam dengan senang hati,cinta,hormat dan memuliakannya.

Dikisahkan tatkala Rasullah saw dan sahabat memasuki kota Mekkah sesudah hijrah, maka orang-orang Quraisy berkumpul di Darun Nadwah melihat orang-orang Islam sambil mengejeknya dan menganggap lemah mereka, seraya mengatakan,”Demam Yatsrib (Madinah) sudah melemahkan mereka”. Ketika Rasulullah  memasuki masjid, maka beliau berbaring diatas kainnya, lalu berlari-lari kecil. Kemudian beliau bersabda : “Semoga Allah mengasihi seseorang yang memperlihatkan kekuatan dirinya kepada mereka” .

BERCUKUR

Mencukur rambut adalah penegasan dan realisasi akan selesainya masa ihram.  Sedangkan perintah untuk mencukur rambut (tahallul) adalah agar kotoran yang melekat pada rambut menjadi hilang,  karena rambut  kepala berfungsi menjaga otak dari berbagai penyakit dan otak yang sehat akan membuahkan pemikiran yang positif.

Mencukur rambut hanya diperintahkan kepada kaum laki-laki sedangkan perempuan tidak wajib, hal ini berdasarkan hadits Nabi saw :”Tidak wajib atas perempuan mencukur rambutnya, tetapi  wajib memendekkannya”.(HR. Ibnu Abbas)

 

UMROH & HAJJ SERVICES
image

PT. KAFILAH SUCI WISATA

SK.KEMENAG RI - Umroh 635- Haji PHU/HK.3348


Jl.Yanatera 5 No:4 Bulog 2.Jatimelati Pondok gede-BEKASI

Tlp : 021 - 84307830 / 021 - 84599752
Fax : 021 - 84307830
Hot Line : 0813 10050444
Artikel Terbaru
SLINK
Kategori
Komentar Terbaru

Rekening Perusahaan

an PT.KAFILAH SUCI WISATA

Mandiri : IDR 167 0000 50288 9

Mandiri : USD 167 0000 50289 7

BSM    : IDR 705 1093 571

 

an SYATIRI RAHMAN

BNI : IDR 0233 073 701

BCA : IDR 0921 351 151

BRI : IDR 7313 01 001594 50 1

customer service
Copyright © 2018 PT KAFILAH SUCI WISATA · All Rights Reserved