FILOSOFI HAJI 1

                              FILOSOFI RITUAL HAJI

PAKAIAN IHRAM

Pakaian ihram laki-laki terdiri dari dua lembar kain yang tidak berjahit. Warna tidak menjadi prinsip,tetapi yang menjadi prinsip adalah tidak berjahitnya itu. Hal ini dimaksudkan  pemakaiannya supaya melepaskan diri dari sifat-sifat buruk yang melekat pada dirinya,seperti merasa bangga,suka pamer kemewahan,sombong atau takabur. Betapapun mahal bahan pakaian kalau hanya diselendangkan saja pada badannya tidak akan mempunyai nilai kemewahan, tetapi jika sudah dijahit menjadi baju  jas misalnya,maka barulah mempunyai arti untuk sebuah kemewahan. Tujuan lebih jauh adalah  agar timbul rasa merendahkan diri dan hina dihadapan Tuhannya, dan rasa tidak memiliki apapun serta kekuatan apapun bagaikan bayi yang hanya dikenakan kain yang tidak berjahit,kecuali kain popok. Pakaian ihram juga mengingatkan pemakainya bahwa ketika lahir tidak ada seutas benangpun yang lekat dibadannya dan kelak ketika meninggal dunia maka pakaian yang melekat dibadannya hanya kain putih yang tak terjahit sebagai pembungkusnya.

Pada dasarnya mengenakan pakaian ihram adalah menanggalkan perhiasan dunia yang penuh gemerlap dan cobaan. Allah berfirman :

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini,yaitu wanita-wanita,anak-anak,harta yang banyak dari jenis emas,perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.itulah kesenangan hidup di dunia,dan di sisi Allah lah sebaik-baik tempat kembali.”(QS.Ali Imran).

Mengenakan pakaian  ihram merupakan ketentuan yang harus dipatuhi oleh orang-orang yang  menunaikan ibadah haji dan umrah,juga memiliki pendidikan rohani,yaitu hakikat manusia itu. Allah hanya melihat iman,amal dan taqwa seseorang  tanpa membedakan  identitas dan strata social. Dalam hadits Rasulullah saw dijelaskan,

”Sesungguhnya Allah tidak melihat dari identitas (social) dan tidak pula kepada hartamu,akan tetapi Allah melihat hati kamu dan amal-amalan kamu.”(HR.Muslim ). Dan firman Allah swt: “Sesungguhnya orang-orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang-orang yang paling taqwa diantara kamu”(QS.Al-Hujurat:13)

Orang  yang berihram sebenarnya menyucikan dirinya dari berbagai hal yang terlarang . Sikap suci ini harus dimiliki oleh orang-orang yang akan bertamu  kepada Allah swt, Ditanah Haram . Orang kafir tidak diperbolehkan memasuki kawasan  itu. Firman allah swt:

  …..”sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati masjidil Haram…”(QSAt-Taubah :28).

Orang musyrik (kafir) yang kotor hatinya. Karena tidak beriman, tidak pantas berdekatan pada Allah. Orang yang datang kerumah Allah (Baitullah) adalah orang yang suci hatinya,dan penuh keimanan dan ketaatan kepada Allah.


BERIHRAM

Berihram itu adalah niat, yaitu niat memasuki haji atau umrah sebagai pemenuhan atas panggilan Allah swt, memenuhi panggilan dengan penuh keyakinan, ditinggalkannya kampung halaman,ditinggalkannya rumah mewah, dilepaskannya pakaian kebesarannya yang menimbulkan persaingan dan perbedaan martabat,dipakainya pakaian ihram, dua lembar kain tanpa dijahit,pakaian kafan mayat yang akan dikubur. Ditinggalkannya jabatan yang membuat sibuk sepanjang waktu, ditinggalkannya bisnis yang meraih keuntungan materi yang tidak terhitung ,menuju rumah Allah yang berupa tumpukan batu persegi empat,tidak ada keistimewaan apa-apa di rumah itu.Tetapi itulah rumah dambaan bagi setiap muslim, belum puas rasanya sebelum mengunjugi Baitullah itu, sehingga rela meninggalkan rumahnya yang mewah, pakaian yang indah dan anak cucu yang dicintainya. Lepas semua atribut, titel, gelar kebangsawanan yang lekat pada dirinya yang menjadi kebanggaan social. Kini dia, benar-benar pasrah  kepada kehendak Allah, rela dan sabar menghadapi kesulitan.

 

 

TALBIYAH,SEBAGAI PANGGILAN ALLAH

Labbaika Allahumma labbaik ,Labbaika Laa syarikalakaLabbaik, innalhamda wa ni’mata laka wa almulka, La syarika laka”

Aku datang memenuhi panggilan-Mu  Ya Allah, Aku datang memenuhi panggilan-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu,tidak ada sekutu bagi-Mu.sesungguhnya segala puji, ni’mat dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu,tidak ada sekutu bagi-Mu

Talbiyah merupakan panggilan Allah kepada seseorang untuk senantiasa dengan ikhlas memenuhi panggilan Tuhannya.Menghadapi  panggilan Allah,orang  Mukmin dengan sepenuh hati akan menyatakan:’Labbaika Allahumma Labbaik ” ..”Aku datang  memenuhi panggilan-Mu   ya Allah”.

Islam mengajarkan tauhid murni, mengajarkan juga agar orang yang bertauhid senantiasa dengan  ikhlas memenuhi panggilan Allah. Hal ini berarti setiap orang yang bertauhid senantiasa bersikap tunduk kepada Allah. Jamaah haji yang mengumandangkan talbiyah melahirkan pernyataan tunduk mutlak kepada petunjuk-petunjuk Allah,atas dasar keyakinan secara sadar bahwa sikap demikian itu akan membawa keberuntungan bagi manusia itu sendiri. Orang yang mengumandangkan talbiyah dengan berpakaian ihram melahirkan sikap tawadhu’merendahkan diri terhadap ke-Maha Besaran Allah swt,sekaligus melahirkan kesatuan kemanusiaan di antara sesama jamaah haji sebagai makhluk ciptaan Allah yang berkewajiban mengabdi kepada-Nya.

 

THAWAF

Thawaf  artinya keliling.  Maksudnya  mengelilingi Ka’bah baik berkaitan dengan  umrah atau haji dan tidak berkaitan dengan keduanya yaitu thawaf sunnat. Firman Allah :

“….Hendaklah mereka thawaf  disekeliling Bait al-Atiq (Ka’bah).” (QS.al-Hajj:29)

Thawaf  merupakan salah satu ibadah yang dilakukan di Baitullah ,yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran yang dimulai dan diakhiri di Hajar Aswad. Thawaf membawa pesan maknawi berputar pada poros bumi yang  paling awal dan paling dasar. Perputaran tujuh keliling bisa di artikan sama dengan jumlah hari yang beredar   mengelilingi kita dalam setiap minggu. Lingkaran pelataran Ka’bah merupakan area pertemuan dan bertamu dengan allah yang dikemukakan dengan do’a dan dzikir dan selalu dikumandangkan selama mengelilingi Ka’bah. Agar kita mengerti dan menghayati  hakikat Allah ,dan manusia sebagai Makhluk-Nya,hubungan manusia dengan pencipta dan ketergantungan manusia akan Tuhannya.

Itulah antara lain inti pernyataan dalam thawaf  yang merupakan  acuan  dalam   kehidupan  kita setiap hari yang dicetuskan dalam berzikir ,do’a,dan tasbih .yang terus melilit dan mengitari kehidupan manusia  setiap hari dan minggu,berulang terus,bagai putaran thawaf yang tujuh. Kita melakukan   thawaf   bagai di ajak untuk mengikuti  perputaran waktu dan peredaran peristiwa,namun tetap berdekatan kepada Allah swt. Dengan menempatkan Allah pada tempat yang semestinya dan menjadikan hamba-Nya yang penuh taat dan tunduk pada Allah  Yang Maha Agung. Dengan tidak menentang aturan-Nya dan melaksanakan  keinginan-Nya. Kepatuhan yang mutlak kepada aturan-Nya dalam semua situasi dan kondisi, Seperti yang difirmankan Allah swt :

“(Yaitu) orang-orang yang  mengingat   Allah sambil berdiri,duduk atau berbaring.”(QS.Ali Imran:191)

Dari sisi lain, Ka’bah merupakan simbol  berkumpul (matsabtan) . Orang berkumpul diKa’bah dalam rangka melakukan thawaf,bukan hanya  berkumpul secara fisik,tetapi  roh dan jiwa bersatu, yaitu menghadap dan menuju Allah. Jadi,setiap orang yang thawaf  diharapkan tidak hanya mengelilingi Ka’bah dengan tidak menghayati pekerjaan-pekerjaannya,tetapi mengkonsentrasikan perlakuan dan pernyataan kepada Allah dalam hadits di jelaskan: Rasulullah saw bersabda ;”Hai Abi Hurairah,engkau akan menemukan orang yang lupa dan lalai ketika melaksanakan thawaf,thawaf mereka itu tidak di terima Allah dan amal itu tidak diangkat (dihitung) Allah.”

Tentang thawaf  tujuh putaran ,dapat dikemukakan  bahwa angka tujuh itu menunjukan pada jumlah yang cukup banyak, dan Allah menunjuk pada angka tujuh itu untuk bilangan langit dan bumi,lebih dari itu tujuh putaran itu memberi  petunjuk pada angka 7 sifat Tuhan kesempurnaan Dzat-Nya,yaitu sifat-sifat : Hayat, Ilmu, Iradat, Qadrat, Sama’, Bashar dan Kalam.

Berputar (mengelilingi) berarti bergerak, bergerak sebagai pertanda hidup, hidup ini dimulai dari kelahiran,pertumbuhan,perkembangan dan pada akhirnya kematian. Pada tumbuh-tumbuhan dimulai dari menanam,tumbuh,berbuah dan pada   ujungnya mati. Matahari dan bulan terus berputar menandainya terjadinya kisaran waktu, siang dan malam, menjadi ukuran hari,bulan ,tahun, kurun dan seterusnya. Demikian juga kehidupan terus berputar diantara manusia,jatuh  bangun,kaya miskin mewarisi kehidupan manusia silih berganti.

Thawaf itu pada lahirnya ialah mengelilingi Ka’bah, bangunan dari batu-batu hitam ,tapi pada hakikatnya kita mengelilingi yang punya bangunan itu,Rabbul Bait Yang Maha Agung. Yang mengelilingi adalah bathin kita, hati kita walau sudah diluar thawaf  tetap sadar bahwa kita lahir di dunia atas kehendak Allah. Hidup kita selalu bersama Allah (ahya wa amut ), dan pada akhirnya kita kembali kepada Allah.

 

KA’BAH

Salah satu  ayat  Al-Qur’an menjelaskan  :

Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia.”(QS.Al-Maidah :97)

Ka’bah hanya tumpukan batu-batu yang berbentuk kubus,terletak di tengah-tengah Masjidil Haram. Ka’bah yang dijadikan pusat peribadatan  haji itu tidak ada sangkut  pautnya dengan sisa-sisa penyembahan berhala di kalangan bangsa Arab jahiliyah. Ka’bah  hanya lambang  yang dijadikan  Allah untuk pusat peribadatan haji yang bernilai ketaatan kepada Allah semata-mata.

Manusia adalah makhluk bersimbol. Makhluk yang pandai menggunakan simbol untuk mengungkapkan perasaannya.Banyak nilai hidup yang sulit dinyatakan dengan kata-kata,tetapi mudah dilukiskan dengan simbol . Bendera kebangsaan , misalnya. Ditinjau dari bahan materinya hanyalah berupa potongan kain yang sangat murah harganya. Tetapi di nilai dari segi muatan nilai kerohanian-nya, bendera kebangsaan itu adalah lambang   kebesaran dan kehormatan bangsa yang amat mahal, tidak mungkin terbeli dengan nilai berapa pun. Perang bisa saja terjadi  hanya karena bendera kebangsaan  suatu bangsa dirobek oleh bangsa lain. Pada upacara-upacara tertentu dilakukan pengibaran bendera kebangsaan dengan penuh khidmat dan hormat. Ini semua terjadi   karena bendera kebangsaan merupakan lambang atau simbol  kebesaran dan kehormatan bangsa itu.

Manusia sebagai makhluk bersimbol tidak dibenarkan membuat sendiri simbol-simbol untuk mencerminkan  keyakinan dan sikap tunduk serta ketaatannya kepada Allah. Untuk melambangkan  tauhid beribadah   hanya tertuju  kepada Allah,dan  menanamkan rasa  kesatuan  dan persaudaraan  kemanusiaan. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim as membangun Ka’bah Al-Musyarofah bersama-sama putranya Ismail as. Kisah Nabi Ibrahim as membangun Ka’bah disebutkan didalam  Al-Qur’an.:

”Dan (ingatlah ) ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah beserta Ismail (seraya berdo’a).:”Ya Tuhan kami terimalah dari kami (amalan kami) Sesungguhnya Engkaulah yang maha mendengar lagi Maha Mengetahui.”(QS.Al-Baqarah:127)

Setelah Ka’bah selesai dibangun, Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim as. Dan  Ismail as  untuk memerihara kesucian dan kebersihannya dari kotoran-kotoran lahir dan batin, bersih dari najis dan kemusyrikan,dan disediakan bagi orang-orang yang thawaf, I’tikaf,ruku dan sujud.

Ka’bah inilah yang mula-mula dibangun di muka bumi ini dan menjadi tempat bertemunya umat manusia serta merupakan tempat yang aman. Allah swt menjelaskan dengan firman-Nya

Sesungguhnya  rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, adalah Baitullah yang ada di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi.”(QS Ali Imran:96)

 

 

 

 

UMROH & HAJJ SERVICES
image

PT. KAFILAH SUCI WISATA

SK.KEMENAG RI - Umroh 635- Haji PHU/HK.3348


Jl.Yanatera 5 No:4 Bulog 2.Jatimelati Pondok gede-BEKASI

Tlp : 021 - 84307830 / 021 - 84599752
Fax : 021 - 84307830
Hot Line : 0813 10050444
Artikel Terbaru
SLINK
Kategori
Komentar Terbaru

Rekening Perusahaan

an PT.KAFILAH SUCI WISATA

Mandiri : IDR 167 0000 50288 9

Mandiri : USD 167 0000 50289 7

BSM    : IDR 705 1093 571

 

an SYATIRI RAHMAN

BNI : IDR 0233 073 701

BCA : IDR 0921 351 151

BRI : IDR 7313 01 001594 50 1

customer service
Copyright © 2018 PT KAFILAH SUCI WISATA · All Rights Reserved