MANASIK HAJI

image

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MANASIK HAJI

Haji menurut bahasa ,haji berarti keinginan yang keras menuju ke suatu tempat yang sangat diagungkan. Sedangkan menurut syari’at, Haji berarti berangkat ketempat yang suci untuk melakukan thawaf, sa’i, wuquf dipadang Arafah dan seluruh amalan manasik lainnya,demi memenuhi panggilan Allah swt dan mengharap ridha-Nya.

HUKUM HAJI

Haji merupakan salah satu dari kelima rukun yang menjadi landasan berdirinya Islam.Dasar diwajibkan haji ini bersumber Al-Quran,Al hadits dan Ijma.

Dasar yang bersumber dari Al-Quran adalah Allah swt berfirman:

“Mengerjakan haji adalah kewajiban hamba terhadap Allah,yaitu bagi yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah.Barangsiapa mengingkarinya,maka Allah maha kaya (tidak memerlukan sesuatu)dari semesta alam. (Al-Imran:97)

Sedangkan yang bersumber dari Al-Hadits adalah riwayat dari ibnu Umar Radhiyallahu Anhu,dimana Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

Islam itu didirikan atas lima perkara.Yaitu,bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah melainkan Allah,dan Muhammad adalah Rasul-Nya,mendirikan shalat,menunaikan zakat,puasa pada bulan Ramadhan,menunaikan ibadah haji ke Baitulah bagi yang mampu melakukanya ”(Muttafaqun Alaih)

Adapun yang bersumber dari ijma’adalah ,bahwa para ulama telah sepakat mewajibkan haji ini.Haji yang dilakukan hanya sekali dalam seumur hidup.Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam: “Haji yang wajib itu hanya sekali,barangsiapa melakukan lebih dari sekali,maka yang selanjutnya adalah tathawwu’ (sunnah).(HR.Abu Dawud,Ahmad dan Al-Hakim)

SYARAT HAJI

1.      Islam

2.      Baligh (dewasa)

3.      Aqil (berakal sehat)

4.      Merdeka (bukan budak)

5.      Istitha’ah (mampu)

RUKUN HAJI

Rukun haji tidak dapat ditinggalkan. Apabila tidak dipenuhi,maka hajinya batal

1.       Ihram (niat)

2.      Wukuf di Arafah

3.      Thawaf  ifadah

4.      Sa’i

5.      Cukur

6.      Tertib

WAJIB HAJI

 Wajib haji ini adalah ketentuan yang apabila dilanggar maka hajinya tetap sah,tetapi wajib membayar Dam.

1.      Ihram,yakni  niat berhaji dari Miqot

2.      Mabit di Muzdalifah

3.      Mabit di Mina

4.      Melontar Jamrah Ula,Wustha dan Aqabah

5.      Thawaf  Wada’ bagi yang akan meninggalkan Mekkah.

 

HIKMAH DAN KEUTAMAAN IBADAH HAJI

PENGERTIAN HIKMAH

Hikmah adalah makna yang terkandung dalam amalan fisik atau rahasia yang tersirat dibalik amalan fisik,atau lebih jauh maknanya mengungkap hakikat dari amalan syariat.Syariat adalah amalan zahir,hakikat amalan intinya.

Maka,hikmah adalah makna hakiki dari praktik ilmu dan amal suatu ibadah.Rasulullah saw menjelaskan:

  “Hikmah dapat menambah (derajat)seorang terhormat dan mengangkat (derajat)seorang hamba sahaya sehingga ia dapat menduduki kedudukan raja        (penguasa).”(HR.Abu NU’aim dan Ibnu ‘Addi).

Dalam Al-Qur,an allah swt berfirman:

Allah menganugrahkan hikmah kepada orang yang Dia kehendaki .Dan barangsiapa dianugrahkan hikmah itu,maka ia sungguh dianugrahkan kebajikan tiada tara.”(Al-Baqarah:269).

HIKMAH IBADAH HAJI

Kewajiban Ibadah Haji mengandung banyak hikmah besar dalam kehidupan rohani seorang Mukmin,serta mengandung kemaslahatan bagi seluruh umat Islam pada sisi agama dan dunianya.Diantara hikmah itu adalah:

1.   Haji merupakan manifestasi ketundukan kepada Allah swt semata .Orang yang menunaikan haji meninggalkan segala kemewahan dan keindahan,dengan mengenakan busana ihram sebagai manifestasi kefakirannya dan kebutuhannya kepada Allah swt,serta menanggalkan masalah duniawi,dan segala kesibukan yang dapat membelokkannya dari keikhlasan menyembah Tuhannya.Dengan berhaji, seorang Muslim menampakkan keinginan untuk mendapatkan ampunan dan rahmat-Nya.Ketika wukuf di Arafah,ia tunduk dihadapan Tuhannya,bersyukur atas seluruh nikmat dan keutamaan yang dianugrahkan kepadanya seraya memohon ampun atas dosa-dosanya,baik dosanya sendiri maupun dosa keluarganya.Didalam thawaf di sekeliling Ka’bah ia berlindung disamping Tuhannya,memohon perlindungan dari dosa,hawa nafsu dan godaan syaitan

2.   Melaksanakan ibadah haji merupakan ungkapan syukur atas nikmat harta dan kesehatan. Keduanya merupakan kenikmatan terbesar yang diterima manusia di dunia.Dalam haji ungkapan syukur atas kedua nikmat terbesar ini dicurahkan,dan dalam haji pula manusia melakukan perjuangan jiwa raga,menafkahkan hartanya dalam rangka mentaati,serta mendekatkan diri kepada Tuhannya. Tentu mensyukuri nikmat adalah kewajiban yang diakui oleh akal yang sederhana sekalipun dan dikewajiban oleh syariat agama.

 

3.  Haji  menempa jiwa yang memiliki semangat juang tinggi . Dalam hal ini dibutuhkan kesabaran,daya tahan ,kedisiplinan ,dan akhlak yang tinggi agar manusia saling menolong satu sama lain. Mereka menunaikan ibadah  haji telah menempuh perjalanan yang sulit untuk berkumpul diMekkah ,kemudian bergerak bersama pada tanggal delapan Dzulhijjah  guna melakukan manasik haji. Mereka  bergerak menunaikan secara bersama pula. Mereka semua diliputi dengan kesenangan hati. Tidak memperdulikan kesesakan dan merasa tidak terganggu  oleh beratnya perjalanan dari satu tempat ketempat  lainnya.  Haji merupakan perkemahan “Rabbani” ,dengan digerakan dan disetir oleh penuntun rohani dari yang maha kuasa, yang secara sukses mengatur beratus-ratus ribu bahkan berjuta-juta manusia.Kekuatan manusia tentulah akan gagal dalam mengatur pekerjaan  raksasa semacam ini.Melihat hal tersebut orang yang memiliki nalar yang jernih,akan berfikir  dan percaya bahwa jalan Islam   adalah jalan  dan tujuan perjuangan umat dalam  kehidupan.

 

4.   Umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul pada pusat pengendalian roh dan kalbu mereka. Satu sama lain saling menyapa dan saling mengasihi. Disana,segala perbedaan diantara manusia menjadi sirna,perbedaan antara kaya dan miskin,antara jenis kelamin dan warna kulit maupun ras dan suku bangsa. Mereka semua bersatu dalam suatu konferensi manusia yang terbesar,yang diwarnai kebaikan,kebajikan,dan permusyawarahan, serta sikap saling menasehati,saling menolong dalam kebaikan,.Tujuan utamanya adalah mengingatkan diri pada Allah swt.

 

5.   Haji menyimpan kenangan di hati,mampu membangkitkan semangat ibadah yang sempurna dan ketundukan tiada henti kepada perintah Allah swt. Haji juga mengajarkan keimanan yang menyentuh jiwa dan mengarahkannya kepada Tuhan dengan sikap taat dan menghindari kesenangan duniawi.

 

6.    Berhaji, sebagai ketaatan memenuhi panggilan Nabi Ibrahim as .dan hikmah manfaatnya,dijelaskan oleh firman Allah swt:“Dan berserulah (engkau Ibrahim) kepada manusia agar berhaji, niscaya mereka akan dating (memenuhi panggilan) kamu dengan berjalan kaki dan menaiki unta yang kurus, dating dari segenap penjuru yang jauh,supaya mereka menyaksikan berbagai manfa’at bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.”(QS.Al-Hajj:27-28)

 

KEUTAMAAN IBADAH HAJI

Diantara keutamaan yang dapat dipetik dari pelaksanaan haji yaitu:

1.      Haji sebagai Rihlah Muqoddasah (perjalanan suci). perjalanan haji pada hakekatnya adalah perjalanan suci yang semua rangkaiannya merupakan ibadah,sehingga Rasulullah saw memberikan petunjuk khusus untuk mengutamakan perjalanan suci ini daripada perjalanan-perjalanan wisata lainnya,sesuai dengan sabdanya: “Tidak ditekankan untuk bepergian kecuali pada tiga masjid,yaitu masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi di Madinah), dan Masjid Aqsha.”(HR. Bukhari dan Muslim) . Dalam perjalanan/wisata suci,maka tentu saja sangat berbeda dengan wisata-wisata biasa karena perjalanan haji ini merupakan satu rangkaian panjang suatu ibadah mulai dari niat,ongkos perjalanan sampai kepada segala bentuk amalan yang diperbuatnya dinilai oleh Allah sebagai suatu ibadah.Rasulullah saw telah menjelaskan dalam sebuah hadits :”Belanja yang dikeluarkan untuk ibadah haji sama dengan belanja yang dikeluarkan untuk berjihad di jalan Allah,satu dirham akan dibalas dengan 700(tujuh ratus)lipat ganda.”(HR.Ahmad dan Tirmidzi )

2.       Haji laksana Muktamar Tahunan . Ibadah haji yang dilaksanakan setahun sekali oleh umat Islam yang datang dari berbagai belahan pelosok bumi ini dan berkumpul bersama-sama dalam suatu tempat merupakan suatu pertemuan akbar umat Islam sedunia. Disamping untuk menunaikan ibadahnya,juga mereka saling bermu’asyarah( bergaul), Keadaan semacam ini akan benar-benar terasa di saat-saat mereka berkumpul bersama dipadang Arafah dalam suasana penuh kedamaian tanpa ada perbedaan antara sikaya dan simiskin,antara si jelata dengan orang yang berkedudukan tinggi,semua serempak tunduk bertahmid dan berseru kepada Tuhan yang satu ,Tuhan Rabbul ‘Alamin .                   Dalam suasana penuh kekhusyuan disampaikan amanah-amanah agama kepada umat dalam khutbah wukuf.Dan disini pula Rasulullah saw saat melaksanakan Haji Wada’minta persaksian umatnya atas tugas suci yang dibawa,yaitu agama Islam dan sekaligus meminta janji mereka untuk sama-sama untuk memuliakan Tanah Haram dan bulan Haram dan tidak saling menyakiti dan saling hormat menghormati. Sabda Rasulullah saw.”Sesungguhnya darahmu,harta bendamu haram bagimu (untuk saling menumpahkan darah dan mengambil harta saudaranya dengan jalan bathil) sebagaimana keharaman (kehormatan) hari ini dan bulan ini.Aku telah tinggalkan kepadamu sesuatu yang kamu tidak akan sesat selagi kamu perpegang teguh padanya yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) sedangkan kamu akan bertanya,maka bagaimana jawaban kalian?.para sahabat berkata :”Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan risalah Tuhanmu dan telah menegakkannya,engkau telah memberi nasehat kepada umatmu,engkau telah menyelesaikan semua tugas bebanmu.Maka Nabipun berkata dengan mengacungkan telunjuknya kelangit lalu mengisyaratkan kepada semua orang, Ya allah saksikanlah,Ya Allah saksikanlah (apa yang diucapkan mereka).” (HR.Jabir).

 

3.      Haji sebagai Ta’zhim (membesarkan) Syi’ar Allah . Peribadatan agama Islam sejalan dengan bentuk-bentuk peribadatan yang melambangkan kebesaran syi’ar Allah. Hal tersebut sangat terasa disaat kita bersama-sama terpusat pada arah yang satu yaitu Ka’bah Al-Musyarrafah sebagai inti syi’ar Allah swt dimana bumi sama dalam gerakan dengan penuh kekhusyu’an bergerak dari arah yang sama dengan tujuan yang sama pula,sehingga secara naluri suasana yang demikian ini membawa kita pada titik mendekatkan diri kepada Allah. Allah swt berfirman :”Demikianlah (perintah Allah).Dan barang siapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah,maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati. ”. Ibadah haji benar-benar suatu ibadah yang harus kita laksanakan dengan satu sikap menyerahkan diri secara total kepada Allah swt.Sikap seperti ini termasuk dalam kandungan ayat :”Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun merasa berat,dan berjihadlah dengan harta dan jiwa ragamu dijalan Allah,yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”(QS.Attaubah:41)

4.      Haji sebagai penyerahan diri secara total kepada Allah swt . Ibadah haji sebagai rukun terakhir dari rukun Islam,merupakan satu ibadah puncak yang melambangkan ketaatan/penyerahan diri secara total kepada Allah swt baik itu harta benda maupun jiwa raga kita. Bagaimanapun juga harta benda sangat menentukan dalam ibadah haji,termasuk bekal dan kendaraan kita. Hadits Rasulullah saw menerangkan.”Apakah (syarat) wajib haji? Nabi menjawab:”Bekal dan kendaraan/transportasi.”(HR.Tirmidzi). Sementara disisi lain pengorbanan jiwa dan raga pun sangat terasa,karena ibadah haji adalah ibadah yang membutuhkan ketahanan dan kemampuan fisik,selama perjalanan,wukuf,mabit,melontar jumroh,thawaf dan sa’i,semua harus di topang dengan kemampuan fisik yang memadai karena semua perbuatan tersebut perbuatan yang berat sehingga jumhur ulama sepakat kamampuan fisik salah satu makna istitha’ah haji.Karena beratnya ibadah haji ini apalagi kondisi jutaan umat manusia,maka kemampuan fisik lebih dominan.

5.      Keutamaan dan pahala ibadah haji.

Diantara keutamaan dan pahala yang dijanjikan Allah swt kepada orang-orang yang melaksanakan ibadah haji:


·  Diampuni segala dosanya ,Rasulullah saw bersabda :”Barangsiapa yang melaksanakan haji karena Allah dengan tidak melakukan rafats (kata-kata kotor) dan tidak berbuat fusuk (durhaka),maka ia kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan dari kandungan ibunya (tanpa dosa).” (HR.Bukhari dan Mislim)

·         Mendapat ganjaran surga ,Rasulullah saw bersabda :”Haji mabrur pahalanya tiada lain kecuali surga” (HR.Ahmad dan Thabrani)

·    Pembiayaan yang dikeluarkan dalam perjalanan haji diberi ganjaran pembiayaan di jalan Allah. Rasulullah saw bersabda ; “Pembiayaan dalam perjalanan haji bagaikan pembiayaan dijalan Allah satu dirham diganjar dengan 700(tujuh ratus) lipat ganda.”(HR.Ahamd dan Tirmidzi).

·         Mendapatkan pahala jihad yang paling utama ,sebagaimana Hadits tentang Aisyah ra. Aisyah ra berkata .”Kami berpendapat bahwa jihad adalah amalan yang paling utama,apakah kami tidak boleh berjihad?. Rasulullah saw menjelaskan,Jihad yang paling utama adalah haji mabrur.”(HR.Bukhari)

·         Mati didalam perjalanan haji sama dengan mati syahid , sabda Rasulullah saw:”Barangsiapa yang wafat dalam perjalanan haji maka ia seperti orang yang wafat dijalan Allah.”(HR.Muslim )

·         Diterima do’anya untuk orang lain, sabda Rasulullah saw .”Barangsiapa yang datang berhaji semata-mata karena Allah, maka Allah mengampuni segala dosa yang terdahulu dan yang kemudian dan memberi syafaat bagi orang yang di do’akannya.’(HR.Abu Nu’aim Al asfahani)

·         Menjadi orang yang dibanggakan Allah kepada Malaikat-Nya .Sabda Rasulullah saw,:”Sesungguhnya orang yang melakukan ibadah haji waktu keluar dari rumahnya,setiap langkahnya Allah menulis kebajikan dan menggugurkan dosanya kemudian apabila mereka wukuf diArafah,Allah membanggakannya kepada Malaikat dengan ungkapan,”Lihatlah kepada hamba-hamba-Ku dia mendatangi-Ku dengan rambut kusut masai,saya persaksikan kepadamu sesungguhnya Aku mengampuni segala dosanya walaupun sebanyak jumlah bintang dilangit dan sebanyak butir kerikil padang pasir.Dan apabila mereka melontar jamarat tidak ada seorang pun yang tahu apa imbalan baginya  sampai ia dibangkitkan Allah swt dihari kiamat.Dan apabila mereka memotong rambutnya,maka ia memiliki cahaya pada hari kemudian,bagi setiap rambut yang gugur dari kepalanya.Apabila telah selesai thawafnya di Baitullah,keluarlah ia dari dosanya seperti halnya bayi yang baru dilahirkan ibunya (bersih dari dosa).”(HR.Ibnu Habban dari Umar).

·         Melaksanakan ibadah haji diniatkan hanya karena Allah swt agar mendapat ridha-Nya didunia dan akhirat . Rasulullah saw mengingatkan dengan sabdanya,:”Akan datang suatu masa yang dialami manusia yaitu:orang kaya dari umatku yang melaksanakan ibadah haji (niatnya)karena wisata,orang kalangan menengah (niatnya)karena berdagang, orang kalangan ahli pengetahuan (niatnya)karena ria dan sum’ah dan kaum fakir diantara mereka (niatnya)karena untuk meminta-minta.”(HR.Ibnu Jauzy)

SUNNAH HAJI

A. Sunah-Sunah Ihram:

1. Mandi ketika ihram.
Berdasarkan hadits Zaid bin Tsabit bahwasannya ia melihat Nabi SAW mengganti pakaiannya untuk ihram lalu mandi. (HR Tirmidzi)

2. Memakai minyak wangi di badan sebelum ihram.
Berdasarkan hadits Aisyah, ia berkata, “Aku pernah memberi wewangian Rasulullah SAW untuk ihramnya sebelum berihram dan untuk tahallulnya sebelum melakukan thawaf di Ka’bah.” (Muttafaq ‘alaih, At-Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah).

3. Berihram dengan kain ihram (baik yang atas maupun yang bawah) yang berwarna putih.
Berdasarkan hadits Ibnu Abbas, ia berkata, “Rasulullah SAW berangkat dari Madinah setelah beliau menyisir rambut dan memakai minyak, lalu beliau dan para sahabat memakai rida’ dan izar (kain ihram yang atas dan yang bawah).

Adapun disunnahkannya yang berwarna putih berdasarkan hadits Ibnu Abbas, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, “Pakailah pakaianmu yang putih, sesungguhnya pakaian yang putih adalah pakaianmu yang terbaik dan kafankanlah orang-orang yang wafat di antara kalian dengannya.” (Muttafaq ‘alaih).

4.Shalat  di lembah Aqiq bagi orang yang melewatinya.
Berdasarkan hadits Umar, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda di lembah Aqiq, “Tadi malam, telah datang kepadaku utusan Rabb-ku dan berkata, ‘Shalatlah di lembah yang diberkahi ini dan katakan (niatkan) umrah dalam haji.”

5. Mengangkat suara ketika membaca talbiyah.
Berdasarkan hadits As-Saib bin Khalladi, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Telah datang kepadaku Jibril dan memerintahkan kepadaku agar aku memerintahkan para sahabatku supaya mereka mengeraskan suara mereka ketika membaca talbiyah.” (HR Bukhari, Abu Dawud, Ibnu Majah).

6.Bertahmid, bertasbih dan bertakbir sebelum mulai ihram.
Berdasarkan hadits Anas, ia berkata, “Rasulullah SAW shalat Dzuhur empat rakaat di Madinah sedangkan kami bersama beliau, dan beliau shalat Ashar di Dzul Hulaifah dua rakaat. Beliau menginap di sana sampai pagi, lalu menaiki kendaraan hingga sampai di Baidha. Kemudian beliau memuji Allah bertasbih dan bertakbir, lalu beliau berihram untuk haji dan umrah.” (HR Bukhari, Abu Dawud).

7. Berihram menghadap kiblat.
Berdasarkan hadits Nafi’, ia berkata, “Dahulu ketika Ibnu Umar selesai melaksanakan shalat Subuh di Dzul Hulaifah, ia memerintahkan agar rombongan mulai berjalan. Maka rombongan pun berjalan, lalu ia naik ke kendaraan. Ketika rombongan telah sama rata, ia berdiri menghadap Kiblat dan bertalbiyah. Ia mengira dengan pasti bahwa Rasulullah SAW mengerjakan hal ini.” (HR Bukhari).

B. Sunah-Sunah Ketika Masuk Kota Makkah
1. Menginap di Dzu Thuwa, mandi untuk memasuki kota Makkah dan masuk kota Makkah pada siang hari.
Dari Nafi’, ia berkata, “Dahulu ketika Ibnu Umar telah dekat dengan kota Makkah, ia menghentikan talbiyah, kemudian menginap di Dzu Thuwa, shalat Subuh di sana dan mandi. Ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW mengerjakan hal ini.” (Muttafaq ‘alaih, Abu Dawud).

2. Memasuki kota Makkah dari Ats-Tsaniyah Al-Ulya (jalan atas).
Berdasarkan hadits Ibnu Umar, ia berkata, “Dulu Rasulullah SAW memasuki kota Makkah dari Ats-Tsaniyah Al-Ulya (jalan atas) dan keluar dari Ats-Tsaniyah As-Sufla (jalan bawah).” (Muttafaq ‘alaih, An-Nasa’i, Ibnu Majah).

3. Mendahulukan kaki kanan ketika masuk ke dalam Masjidil Haram.

4. Mengangkat tangan ketika melihat Ka’bah.

C. Sunah-Sunah Thawaf
1. Al-Idhthiba’
Yaitu memasukkan tengah-tengah kain ihram di bawah ketiak kanan dan menyelempangkan ujungnya di pundak kiri sehingga pundak kanan terbuka, berdasarkan hadits Ya’la bin Umayyah bahwasannya Rasulullah SAW thawaf dengan idhthiba’.  (HR Ibnu Majah, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah).

2. Mengusap Hajar Aswad.
Berdasarkan hadits Ibnu Umar, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW ketika tiba di Makkah mengusap Hajar Aswad di awal thawaf, beliau thawaf sambil berlari-lari kecil di tiga putaran pertama dari tujuh putaran thawaf.” (Muttafaq ‘alaih, An-Nasa’i).

3. Mencium Hajar Aswad.
Berdasarkan hadits Zaid bin Aslam dari ayahnya, ia berkata, “Aku melihat Umar bin Khathab RA mencium Hajar Aswad dan berkata, “Seandainya aku tidak melihat Rasulullah SAW menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” (Muttafaq ‘alaih, Abu Dawud, Ibnu Majah, At-Tirmidzi, An-Nasa’i).

4. Bertakbir setiap melewati Hajar Aswad.
Berdasarkan hadits Ibnu Abbas, ia berkata, “Nabi SAW thawaf mengelilingi Ka’bah di atas untanya, setiap beliau melewati Hajar Aswad beliau memberi isyarat dengan sesuatu yang ada pada beliau kemudian bertakbir.” (HR Bukhari).

5. Berlari-lari kecil pada tiga putaran pertama thawaf yang pertama kali (thawaf qudum).
Berdasarkan hadits Ibnu Umar, “Bahwasanya Rasulullah SAW ketika thawaf mengitari Ka’bah, thawaf yang pertama kali, beliau berlari-lari kecil tiga putaran dan berjalan empat putaran, dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir kembali di Hajar Aswad.” (Muttafaq ‘alaih, Ibnu Majah, Abu Dawud, An-Nasa’i).

6. Mengusap rukun Yamani.
Berdasarkan hadits Ibnu Umar, ia berkata, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW mengusap Ka’bah kecuali dua rukun Yamani (rukun Yamani dan Hajar Aswad).” (Muttafaq ‘alaih, Abu Dawud, An-Nasa’i).

7. Berdo’a di antara dua rukun (rukun Yamani dan Hajar Aswad) dengan do’a sebagai berikut: رَبَّنَآ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

“Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (HR Bukhari, Ibnu Majah).

8. Shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim setelah thawaf.
Berdasarkan hadits Ibnu Umar, ia berkata, “Setelah tiba, Rasulullah SAW thawaf mengelilingi Ka’bah tujuh kali, kemudian beliau shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim dan sa’i antara Shafa dan Marwah.”

9. Sebelum shalat di belakang Maqam Ibrahim membaca: وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّىٰ.

“Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim itu tempat shalat.”

Kemudian membaca dalam shalat dua rakaat itu surat Al-Ikhlash dan surat Al-Kaafirun.

10. Berdiri di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah dengan cara menempelkan dada, wajah dan lengannya pada Ka’bah.

11. Minum air zamzam dan mencuci kepala dengannya.
Berdasarkan hadits Jabir bahwasannya Rasulullah SAW mengerjakan hal tersebut.

D. Sunah-Sunah Sa’i:
1. Mengusap Hajar Aswad (seperti yang telah lalu).
2. Membaca: إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَائِرِ اللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

“Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullaah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i di antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maham Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 158).

Kemudian membaca: نَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ.

“Kami mulai dengan apa yang dimulai oleh Allah.”

3. Berdoa di Shafa.
Ketika berada di Shafa, menghadap Kiblat dan membaca: اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، أَنْجَزَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ.

“Tidak ada tuhan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan, bagi-Nya segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada tuhan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata. Yang melaksanakan janji-Nya, membela hamba-Nya (Muhammad) dan mengalahkan golongan musuh sendirian.”

4. Berlari-lari kecil dengan sungguh-sungguh antara dua tanda hijau.

5. Ketika berada di Marwah mengerjakan seperti apa yang dilakukan di Shafa, baik menghadap Kiblat, bertakbir maupun berdoa.

E. Sunnah-Sunnah Ketika Keluar dari Mina
1. Ihram untuk haji pada hari Tarwiyah dari tempat tinggal masing-masing.

2. Shalat Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya’ di Mina pada hari Tarwiyah, serta menginap di sana hingga shalat Subuh dan matahari telah terbit.

3. Pada hari Arafah, menjamak shalat Dzuhur dan Ashar di Namirah.

4. Tidak meninggalkan Arafah sebelum matahari tenggelam.

 

 

 

 

 

UMROH & HAJJ SERVICES
image

PT. KAFILAH SUCI WISATA

SK.KEMENAG RI - Umroh 635- Haji PHU/HK.3348


Jl.Yanatera 5 No:4 Bulog 2.Jatimelati Pondok gede-BEKASI

Tlp : 021 - 84307830 / 021 - 84599752
Fax : 021 - 84307830
Hot Line : 0813 10050444
UMROH 2017-2018

Rekening Perusahaan

an PT.KAFILAH SUCI WISATA

Mandiri : IDR 167 0000 50288 9

Mandiri : USD 167 0000 50289 7

BSM    : IDR 705 1093 571

CIMB : IDR 86000 5369 900

CIMB : USD 86000 5370 640

 

 

an SYATIRI RAHMAN

BNI : IDR 0233 073 701

BCA : IDR 0921 351 151

BRI : IDR 7313 01 001594 50 1

Copyright © 2018 PT KAFILAH SUCI WISATA · All Rights Reserved